Waspadai 3 Tanda Osteoporosis Ini!

MilenialHealth.com – Penurunan kekuatan dan kepadatan tulang atau osteoporosis bisa terjadi di seluruh tubuh. Kenali tanda-tandanya!

Osteoporosis merupakan kondisi menurunnya kekuatan dan kepadatan tulang di seluruh tubuh. Bagian luar tulang n bisa melemah dan menipis. Pengeroposan tulang identik dengan penyakit orang tua, tetapi kondisi ini bisa menyerang kelompok usia muda. Osteoporosis bisa menyebabkan fraktur dan patah tulang. Karenanya, penting untuk mewaspadai beberapa tanda-tanda osteoporisis sehingga bisa segera ditangani sedini mungkin.

Menurut dr. Nitish Basant Adnani, BmedSc, MSc, dari KlikDokter, umumnya tahap osteoporosis tidak menunjukkan tanda atau gejala.

“Pada sebagian besar kasus, individu dengan osteoporosis tidak mengetahui bahwa mereka mengalami osteoporosis sehingga pada suatu hari ia mengalami patah tulang. Tanpa penanganan yang tepat, osteoporosis dapat menunjukkan perburukan seiring dengan berjalannya waktu. Semakin tipis dan lemah tulang tubuh, risiko terjadinya patah pulang juga semakin meningkat,” jelas dr. Nitish.

Meski demikian, diagnosis osteoporosis tidaklah sulit dan pengobatan bisa segera dimulai, dengan catatan dilakukan tes yang tepat. Mengetahui kapan harus cek kepadatan tulang bisa membantu diagnosis sehingga Anda bisa segera menjalami terapi yang dibutuhkan.

Waspadai tanda dan gejala osteoporosis

Waktu penanganan osteoporosis terbaik adalah sebelum tanda dan gejala muncul. Maka dari itu, penting untuk mengetahui beberapa faktor risiko perkembangan osteoporosis, serta kemungkinan Anda terkena penyakit tulang tersebut.

Beberapa tanda peringatan yang perlu dikenali antara lain:

1. Fraktur akibat trauma energi ringan (low-energy fracture)

Sebagian besar orang akan mengalami patah tulang ketika ada kekuatan besar yang bisa menyebabkan cedera. Misalnya patah tulang setelah jatuh dari ketinggian, kecelakaan saat berkendara, atau cedera saat berolahraga. Namun, dikatakan oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter, jika cedera ringan seperti tersandung saat sedang berjalan bikin tulang retak atau patah, ini harus diwaspadai.

2. Nyeri tulang atau sendi yang misterius

Penyebab nyeri tulang dan sendi beragam, termasuk akibat osteoporosis. Ketika tulang tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan berat tubuh, cedera bisa terjadi. Nyeri tulang atau sendi yang tak diketahui penyebabnya harus Anda curigai berhubungan dengan kesehatan tulang.

“Pasalnya, ketika tulang kehilangan kekuatan untuk menahan bobot tubuh, keluhan nyeri pada bagian tubuh tertentu termasuk sendi akan sangat mungkin terjadi,” kata dr. Astrid mengingatkan.

3. Tinggi badan menyusut atau badan menjadi bungkuk

Proses pengeroposan pada tulang belakang yang terjadi secara diam-diam dan berkelanjutan bisa membuat seseorang kehilangan tinggi badan.

“Bahkan, bukan tidak mungkin bentuk tubuh juga akan menjadi bungkuk,” ujar dr. Astrid. Penampilan khas seorang individu dengan masalah tekanan di tulang belakang adalah perawakan pendek dengan punggung bungkuk.

Faktor risiko osteoporosis

Ada beberapa faktor risiko yang tak bisa Anda kontrol. Ada hal-hal yang mungkin sudah melekat pada Anda sejak lahir, sehingga meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis di kemudian hari. Semakin banyak faktor risiko yang Anda miliki, maka Anda harus makin waspada untuk terus memantau kesehatan tulang.

“Riwayat keluarga, jenis kelamin wanita, usia di atas 65 tahun, ras Asia dan Kaukasia, menopause, serta ukuran tubuh merupakan faktor risiko osteoporosis yang tidak dapat diubah,” papar dr. Nitish.

Selain itu, menopause dini (termasuk pengangkatan rahim sebelum usia 45 tahun), kondisi malabsorpsi seperti penyakit Celiac atau Crohn, gangguan endokrin (seperti tiroid atau penyakit paratiroid), serta kanker (myeloma atau limfoma) juga masuk dalam kategori faktor risiko yang tak bisa diubah.

Sebaliknya, ada pula faktor risiko yang bisa diubah dengan cara melakukan perubahan gaya hidup. Menurut dr. Nitish faktor-faktor tersebur antara lain:

  • Kurang aktivitas fisik
  • Asupan kalsium dan vitamin D rendah
  • Kekurangan protein
  • Kurang paparan sinar matahari
  • Konsumsi minuman tinggi kafein dan tinggi alkohol
  • Rendahnya hormon estrogen
  • Konsumsi obat-obatan tertentu seperti steroid

Faktor risiko lain yang juga patut diketahui adalah kondisi tertentu serta obat-obatan yang dapat memengaruhi peluang Anda terkena osteoporosis. Meski demikian, kondisi ini bisa menyulitkan. Sebagai contoh, menghentikan pengobatan kejang memang tak mungkin, tetapi ini kondisi tersebut harus diperhatikan untuk menilai risiko osteoporosis.

Berbagai cara mencegah osteoporosis

Sudah pasti tak ada yang mau terkena osteoporosis karena kualitas hidup menjadi taruhannya. Oleh karena itu, dr. Astrid menganjurkan Anda untuk:

  • Konsumsi asupan sehat bergizi seimbang, khususnya yang mengandung kalsium dan vitamin D.
  • Lakukan olahraga 30 menit sehari, setidaknya tiga kali dalam seminggu.
  • Hindari rokok dan berhenti konsumsi minuman yang mengandung alkohol.
  • Periksa kesehatan tubuh dan tulang Anda secara berkala.
  • Hindari minum kopi secara berlebihan.
  • Hindari konsumsi minuman ringan (soft drink).
  • Batasi garam, sodium, dan makanan asin lainnya.
  • Pastikan kulit Anda “tersentuh” langsung oleh sinar matahari pagi.
  • Konsumsi suplemen di bawah pengawasan dokter.

Jika Anda mendapati salah satu tanda yang disebutkan sebelumnya, waspadalah. Segera periksakan kondisi Anda ke dokter agar dilakukan tes kepadatan tulang.

Sedangkan bagi Anda yang tak pernah punya masalah dengan tulang, tetap waspada dengan melakukan langkah-langkah pencegahan agar tulang senantiasa kuat dan sehat. Dengan demikian Anda bisa menghindari serangan osteoporosis.

April 1, 2019

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *